クローズアップ

【INDONESIAN】Organization for Technical Intern Trainee Life support (TITL) ~Mendukung kehidupan trainee magang teknis asing yang tinggal di Jepang untuk membawa senyum ke wajah mereka~

*Artikel ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahasa yang banyak digunakan oleh penerima dukungan dari Organization for Technical Intern Trainee Life support (TITL).

 

800×600
Direktur Representatif Kawate Naoya (kiri) dan Direktur Suzuki Norimitsu (kanan). Perusahaan yang mereka jalankan masing-masing menerima pemagang kerja teknis.

Organization for Technical Intern Trainee Life support (TITL) yang berada di Distrik Edogawa memberikan dukungan yang dapat menjadikan kehidupan pemagang kerja teknis asing lebih bermakna selama masa tinggal mereka yang terbatas di Jepang.
Para pemuda ini bekerja siang-malam untuk mengasah keterampilan mereka. Namun demikian, beredar kabar bahwa kehidupan mereka di Jepang tidak terlalu menyenangkan. Kami mewawancarai Direktur Representatif Naoya Kawate dan Direktur Tokumitsu Suzuki dari TILT yang merupakan organisasi pendukung kehidupan para pemagang kerja teknis tersebut.

 

Pertama Kali Mengetahui Realitas Para Pemagang Kerja Teknis yang Berada di Jepang

800×600
Ketika mempekerjakan pemagang kerja teknis di perusahaannya pada tahun 2016, Kawate merasa bahwa kebutuhan untuk SDM seperti ini akan meningkat di masa depan.

Sistem pemagangan kerja teknis yang diterapkan pada tahun 1993 memungkinkan warga negara asing untuk tinggal di Jepang serta menjalani pelatihan teknis dengan remunerasi tertentu. Hingga akhir bulan Juni 2021, terdapat 354.104 pemagang kerja teknis asing yang tinggal di Jepang (data Biro Layanan Imigrasi), dan penerimaannya di berbagai industri dan pekerjaan terus meningkat, termasuk di industri konstruksi yang mengalami kekurangan tenaga kerja serius. Naoya Kawate yang menjalankan perusahaan konstruksi dan mengetahui keberadaan program ini mulai mempekerjakan pemagang kerja teknis di perusahaannya pada bulan Agustus 2016.
“Sebelumnya saya tidak mengetahui tentang sistem pemagangan kerja teknis. Saya tertarik dan mempelajari berbagai aspek sistem ini.”
Ketika mencari informasi di internet, Kawate menemukan artikel ilmiah yang ditulis seorang pemagang kerja teknis yang telah menyelesaikan programnya.
“Menurut artikel ilmiah itu, lebih dari 90% peserta magang memiliki citra positif tentang Jepang sebelum mereka datang ke Jepang, misalnya di Jepang bisa mengasah keterampilan tingkat tinggi. Namun setelah tiba di Jepang, mereka merasa kesepian dan terisolasi, dan mendapati bahwa pekerjaannya tidak seperti yang mereka bayangkan. Akhirnya, cukup banyak pemagang kerja teknis yang memiliki citra buruk tentang Jepang saat pulang ke negara asalnya. Karena mereka telah membulatkan tekad untuk datang ke Jepang, saya ingin mereka memiliki kenangan yang menyenangkan selama di Jepang.” Saat berbincang dengan kolega dari industri yang sama, kenalan dari industri lain, serta teman-teman yang merupakan warga setempat, Kawate, Suzuki, dan seorang Suzuki lainnya yang merupakan senior dan junior di universitas serta berasal dari daerah yang sama berpikir apakah bisa mengubah situasi itu. Kemudian, mereka mendirikan TITL.

 

Bermula dari Kursus Bahasa Jepang untuk Mengatasi Masalah Komunikasi di Tempat Kerja

800×600
Suzuki bertugas menyelenggarakan kursus bahasa Jepang. “Mereka sering izin tidak datang kursus secara mendadak. Saya tidak tahu apakah mereka akan datang atau tidak hingga hari saat kelas akan diadakan. Kami terus mencoba berbagai cara agar mereka mau datang kursus.”

Kawate dan rekan-rekannya mendirikan TITL pada 18 Desember 2017.
Menurut Kawate, “Kami mendirikan organisasi ini dengan harapan agar bisa menjadi tempat bagi para pemagang kerja teknis untuk berkumpul sehingga kami dapat mendukung kehidupan mereka. Namun, saat melihat mereka datang ke perusahaan, kami menyadari bahwa bahasa adalah masalah besar yang pertama. Jika tidak menguasai bahasa Jepang, mereka tidak akan bisa berkomunikasi dengan pekerja Jepang. Pekerja Jepang dan pemagang kerja teknis sama-sama mengalami frustrasi dan stres.”
Meskipun para pemagang kerja teknis memiliki kesempatan untuk belajar bahasa Jepang dalam pelatihan sebelum dan setelah tiba di Jepang, kemampuan masing-masing bervariasi. Pada dasarnya banyak calon pemagang kerja teknis memiliki tingkat kemampuan bahasa Jepang N4-N5 (pemula) dalam Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (JLPT). Namun, untuk berinteraksi dalam keseharian memerlukan kemampuan bahasa Jepang tingkat N3 sehingga banyak yang mengkhawatirkan komunikasi di tempat kerja atau di luar itu. - “Ujian Kemampuan Bahasa Jepang N1-N5: Standar Kualifikasi”
Oleh karena itulah, kegiatan TITL bermula dari penyelenggaraan kursus bahasa Jepang.

 

Tempat Peserta Magang Bertemu untuk Menambah Kenalan di Jepang

800×600
Para pemagang kerja teknis berinteraksi dengan guru bahasa Jepang dan mahasiswa. Bersama-sama, mereka membuat masakan Indonesia, yaitu nasi goreng.

Saat memulai kursus bahasa Jepang, kami meminjam ruang rapat di asosiasi perusahaan industri konstruksi di Distrik Edogawa 2 kali sebulan, dan mengumpulkan sekitar 20-30 pemagang kerja teknis yang bekerja di masing-masing perusahaan. Namun, situasinya berubah drastis setelah 1 tahun akibat pandemic. Kursus pun diselenggarakan secara online. Kursus secara online membuat kami tidak perlu lagi menyiapkan tempat dan meningkatkan frekuensi kursus. Sekarang, kursus ini diadakan setiap hari jika ada permintaan. Kemudian, berkat koneksi antara sesama pemagang kerja teknis, kursus ini juga diikuti oleh pemagang kerja teknis dari Gifu, Aichi, Ibaraki, Aomori, dan daerah-daerah lainnya, dan bahkan juga ada mantan pemagang kerja teknis yang mengikuti kursus setelah kembali ke negara asalnya.
Banyak pemagang kerja teknis yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki teman atau kenalan di tempat magang dan di lingkungan tetangga setiba di Jepang, sehingga mereka mudah merasa homesick dan kesepian. Namun, melalui aktivitas seperti kursus bahasa Jepang ini, mereka dapat saling berteman dengan sesama pemagang kerja teknis dan berkenalan dengan orang Jepang di lingkungan tetangga. TILT pun menjadi tempat bertemu untuk menambah kenalan bagi para pemagang kerja teknis. Selain itu, TILT juga memberikan kesempatan bagi para pemagang kerja teknis untuk merasakan budaya Jepang melalui partisipasi dalam festival lokal dan ajang yang diselenggarakan sesuai musimnya.

 

“Kebun Multikultural” Menghibur Ketika Festival dan Acara Ditangguhkan di Tengah Pandemi

800×600
Kebun multikultural dengan luas sekitar 500 m2. Kebun ini ditanami beragam sayur musiman seperti selada, bayam komatsuna, ubi jalar, dll.

Meskipun kursus bahasa Jepang tetap diadakan secara online, banyak acara seperti hanami (menikmati sakura), mochitsuki (membuat mochi), festival, dan lain-lain yang sebelumnya dinikmati para pemagang kerja teknis terpaksa ditiadakan karena pandemi. Di tengah situasi semacam ini, pada bulan April 2021, TITL menamai lahan kebun yang disewa dengan nama “Kebun Multikultural” dan mulai menanam sayuran, dll.
"Salah satu pemagang kerja teknis mengatakan ingin bercocok tanam di atap perusahaan sehingga saya mendapatkan ide ini,” kata Suzuki yang menyewa lahan kebun di dekat perusahaan. "Banyak di antara pemagang kerja teknis yang berasal dari pedesaan. Mereka berpartisipasi dengan senang hati. Selain menghemat uang untuk membeli sayur, mengolah tanah tampaknya menjadi momen menenangkan bagi mereka. Mereka tidak hanya menanam sayuran, tetapi juga membuat selai dari prem di lahan kebun dan menanam serai. Kami juga mencoba membudidayakan sayuran tanpa pestisida dengan bantuan para pemagang kerja teknis.”
Serai yang digunakan untuk masakan negara asal pemagang kerja teknis harganya mahal di Jepang sehihngga serai sangat populer di antara pemagang kerja teknis. Kebun ini tidak hanya dirawat bersama oleh pemagang kerja teknis, tetapi juga oleh relawan lokal, anak-anak di lingkungan tetangga, serta mahasiswi Wayo Women's University sebagai bagian dari kuliah mereka.
"Saya berharap hasil panen itu bisa dimanfaatkan untuk pertukaran budaya, seperti diolah menjadi masakan negara asal para pemagang kerja teknis,” kata Bapak Suzuki.

 

Rekan Kerja yang Bekerja Bersama di Jepang, Bukan Sekadar Tenaga Kerja

800×600
Kegiatan mochitsuki (membuat mochi) pada bulan Desember 2022. Sekitar 30 orang peserta magang, pengajar kursus bahasa Jepang, relawan, mahasiswa Wayo Women's University turut berpartisipasi.

TITL telah diikuti lebih dari 100 pemagang kerja teknis dari 3 negara (Vietnam, Myanmar, dan Indonesia). Kini, TITL tengah mempertimbangkan rencana kegiatan selanjutnya.
“Tiga tahun telah berlalu sejak organisasi ini didirikan. Kami sedang memikirkan dan mengkaji kelanjutannya. Meskipun dibantu para relawan, manajemen dasar organisasi terutama dijalankan oleh 4-5 orang pendiri organisasi. Kami juga memiliki pekerjaan utama sehingga kami merasa kesulitan menyeimbangkannya dengan kegiatan TITL,” ungkap Suzuki.
“Di antara pemagang kerja teknis yang mengikuti kursus bahasa Jepang, ada yang menyampaikan terima kasih, ada yang siap membantu bila kami membutuhkan sesuatu, dan ada pula yang akan tetap berpartisipasi setelah program pemagangan kerja teknis selesai. Seiring dengan perjalanan waktu, kesibukan semakin terasa. Namun, kami ingin mempertahankan kegiatan ini selaku organisasi,” papar Kawate.
Kawate telah mendapatkan perizinan dan menjalankan organisasi sebagai lembaga pendukung terdaftar (TSK) untuk keterampilan khusus dan agen penempatan kerja gratis yang tidak hanya memberikan dukungan bagi kehidupan pemagang kerja teknis, tetapi juga dukungan lingkungan kerja.
Pemagang kerja teknis diterima di tempat kerja sebagai penolong masalah kekurangan SDM. TITL berusaha menjaga kebahagiaan mereka, bukan hanya sebagai tenaga kerja, tetapi terutama sebagai manusia, agar kehidupan para peserta magang selama masa tinggal mereka yang terbatas di Jepang menjadi lebih memuaskan.